Minggu, 12 Mei 2013
Kamis, 09 Mei 2013
Mata Kedutan menurut Medis
Mata berkedut atau biasa dinamakan kedutan hampir pernah dirasakan semua orang. Karena jarang-jarang terjadi, ketika mata kedutan biasanya dianggap sebagai pertanda mau dapat rezeki atau dapat masalah.
Mata kedutan biasanya hanya terjadi beberapa detik atau menit yang terjadi dalam sekali atau beberapa kali dalam satu hari. Atau terkadang akan hilang dan datang lagi.
Kedutan terjadi sangat spontan yakni gerakan tiba-tiba pada kelopak mata atas atau bawah. Kedutan bisa terjadi pada semua usia dan bukan sesuatu yang perlu dikhawatirkan karena bukan penyakit berbahaya dan tidak mempengaruhi kemampuan penglihatan.
Ada mitos mengatakan, jika mata kiri kedutan artinya akan menangis. Atau, bila kedutan di mata kanan mitosnya ada seseorang yang merindukan Anda. Tapi, tahukah Anda sebenarnya ada makna medis di balik ‘reaksi’ tubuh ini?
Menurut Dr. Karen Wolfe, penulis buku ‘Create The Body Your Soul Desires’, mata kedutan bisa menjadi pertanda bahwa tubuh anda sedang mengalami gangguan ringan.
Kedutan atau istilah medisnya Blepharospasm (Beb) adalah kontraksi otot tak terkontrol yang menyebabkan kontraksi sekitar mata. Jika Anda terus-menerus mengalami mata kedutan tanpa henti, bisa jadi merupakan gejala gangguan saraf.
Tapi, bila hanya sesekali mengalaminya, mata kedutan secara medis bisa berarti Anda sedang stres, kurang tidur, atau terlalu lama melihat di tempat yang sama dalam waktu lama (misalnya, terlalu lama melihat layar komputer).
Para ahli kesehatan sepakat, 99% kedutan pada mata disebabkan karena tubuh didera stres dan kelelahan. Tidak ada cara lain yang bisa anda lakukan untuk menghentikan kedutan pada mata ini selain membiarkan tubuh dan mata Anda untuk beristirahat.
Sebelum masalah ini semakin parah, ada baiknya Anda mulai mengurangi tingkat stres, kurangi asupan kopi, dan cobalah untuk tidur minimal 7 jam sehari.
Menurut Burt Dubow, OD, FAAO, pakar mata dari Contact Lens and Cornea Section of the American Optometric Association, kedutan bukan masalah medis yang serius. Kedutan adalah kontraksi yang melibatkan otot orbicularis oculi.
Kedutan terjadi karena serabut saraf di dalam otak mengalami kontraksi sesaat. Denyutan pembuluh darah tiba-tiba seperti mengalami rangsangan (kontraksi) yang membangkitkan aliran listrik melalui nervus facialis yang membuat mata kejang sesaat.
Kedutan dianggap berbahaya jika kejadiannya berlangsung secara terus menerus dan dalam waktu lama atau gerakannya tidak bisa diobati.
Insiden dan kejadian kedutan tidak dapat diketahui, namun seperti diberitakan oleh allaboutvision, setidaknya ada 7 faktor yang menjadi penyebab kedutan:
1. Stres
Mata berkedut dapat menjadi salah satu tanda stres karena mata menjadi begitu tegang. Mengurangi penyebab stres dapat membantu membuat mata berhenti bergerak-gerak.
2. Kelelahan
Kurang tidur yang dialami entah karena stres atau alasan lain dapat memicu kejang kelopak mata. Segera bayar kekurangan tidur Anda dapat membantu mengurangi kedutan.
Dr.Andreas Prasadja, RPSGT, sleep physician di Sleep Disorder Clinic dari RS Mitra Kemayoran, mengatakan kedutan bisa diakibatkan oleh gangguan pada organ penglihatan kita yang bersifat sementara akibat kurang istirahat. Gangguan ini lebih parah, jika sudah menjalar ke otot sekitar bibir. Kondisi ini disebabkan oleh adanya iritasi yang terjadi pada saraf kranial ke-7 di wajah oleh pembuluh darah arteri serebri anterior atau karena gangguan yang lain.Kalau begini, Tidurlah yang cukup dan teratur. Kalau berkutat di depan komputer sepanjang hari, istirahatkan mata sejenak dengan cara melihat ke jauh depan, kemudian pejamkan. Kompresan air dingin baik juga diberikan untuk mengurangi peradangan. Jika kedutan masih berlanjut, konsultasi ke spesialis saraf.
3. Mata lelah
Mata Anda mungkin bekerja terlalu keras yang memicu kelopak mata bergerak-gerak. Mata yang tegang karena terus menatap komputer salah satunya menjadi penyebab yang sangat umum dari gangguan mata.
4. Kafein dan Alkohol
Banyak ahli percaya bahwa terlalu banyak kafein dan alkohol dapat memicu mata berkedut karena tekanan pada pembuluh darah meningkat.
5. Mata kering
Lebih dari separuh penduduk tua mengalami mata kering akibat proses penuaan. Mata kering juga sangat umum bagi orang-orang yang menggunakan komputer, mengonsumsi obat-obatan tertentu seperti antihistamin, antidepresan, memakai lensa kontak dan mengonsumsi kafein atau alkohol. Lelah dan stres juga bisa memicu mata kering.
6. Ketidakseimbangan Nutrisi
Beberapa laporan menunjukkan kekurangan zat gizi tertentu seperti magnesium dapat memicu kejang kelopak mata. Jika Anda mencurigai kekurangan gizi telah mempengaruhi kesehatan sebaiknya minta pendapat ahli gizi.
7. Alergi
Orang-orang dengan mata alergi memiliki gejala antara lain gatal, bengkak dan mata berair. Ketika mata digosok, akan mengeluarkan histamin yang memicu keluarnya air mata. Beberapa bukti menunjukkan bahwa histamin dapat menyebabkan kelopak mata bergerak-gerak.
8. Gangguan saraf motorik ke-7
Menurut Dr.Donny Istiantoro, Sp.M, spesialis mata di Jakarta Eye Center, kedutan pada mata adalah hal yang tidak perlu dikhawatirkan. Karena, biasanya akan sembuh sendiri. Karena gangguan saraf motorik ke-7 ini hanyalah akibat terlalu lelah. Untuk hal ini, bisa atasi dengan mengonsumsi multivitamin penambah darah atau vitamin E. Jika kondisinya semakin parah dan mengganggu aktivitas sehari-hari, kita bisa meminta yang ahli untuk melakukan suntik Botoks. Atau pergi memeriksakan diri ke ahli bedah mata.
9. Dystonia atau Blepharospasm
Menurut naturopati Riani Susanto, ND, CT., mata berkedut bisa disebakan oleh faktor keturunan, trauma fisik dan infeksi. Ini membuat saraf bergerak dan otot mata berkontrasi kedutan (dystonia). Atau bisa juga karena stres dan kelelahan, sehingga kontraksi otot menjadi tidak terkendali dan menyebabkan terjadi kontraksi pada daerah sekitar mata (blepharospasm).
Untuk kasus ini, jauhi stres. Cobalah menjadi orang yang lebih bersyukur dengan semua kita miliki sekarang. Rasa syukur mampu mengangkat beban pikiran kita. Agar daerah mata yang berkedut terasa relaks, kurangi paparan cahaya dengan menggunakan kaca mata hitam. Jika kedutan mata sudah menjadi permanen, suntik botoks bisa dilakukan jika perlu, untuk melokalisasi dan membuat lumpuh area kedutan. (source: suaramedia)
Jumat, 08 Maret 2013
Ngobrolin ARISAN Nih! Capcus, chiiin... :)
Duh, siapa sih yang nggak tahu
istilah arisan? Dari ibu-ibu sampai anak kecil pun tahu arisan. Arisan yang
notabene menjadi ajang interaksi sosial para ibu rumah tangga, bahkan sampai
sosialita. Semua kalangan dari menengah ke bawah sampai menengah ke atas pun
tahu dan menjadi anggota arisan, dengan nama kelompok arisan yang lucu-lucu,
contohnya kelompok arisan para ibu-ibu muda sosialita ibukota menamakan mereka
kelompok arisan Cetar.
Arisan merupakan budaya yang
tercipta dalam lingkungan masyarakat Indonesia menggunakan konsep menabung atau
mengumpulkan barang yang bernilai sama (kebanyakan berupa uang) yang akan
ditarik melalui cara mengocok nama, yang mana nama yang keluar, dialah pemenang
arisan tersebut dalam waktu berkala, sesuai kesepakatan anggota arisan tersebut.
Sensasi yang didapatkan apabila memenangkan arisan pastinya deg-degan, penasaran, senang, dan bangga. Arisan biasanya diadakan di lingkungan RT, sampai kecamatan, keluarga besar, komunitas, perusahaan atau lembaga-lembaga pemerintahan, sampai anak sekolahan. Dan, sekarang sedang trend arisan online (hati-hati kebanyakan sih penipuan dan money game).
Sensasi yang didapatkan apabila memenangkan arisan pastinya deg-degan, penasaran, senang, dan bangga. Arisan biasanya diadakan di lingkungan RT, sampai kecamatan, keluarga besar, komunitas, perusahaan atau lembaga-lembaga pemerintahan, sampai anak sekolahan. Dan, sekarang sedang trend arisan online (hati-hati kebanyakan sih penipuan dan money game).
Pada dasarnya konsep arisan itu
menabung dan kredit. Maksudnya apa nih? Contoh konkretnya begini, pertama,
apabila seseorang memenangkan kocokan arisan di periode pertama arisana, maka
dia terhitung berhutang. Sedangkan, bagi seseorang yang memenangkan arisan di
periode terakhir (baca : urutan terakhir) maka dia terhitung menabung uang.
Konsep arisan yang berawal dari
niatan para ibu rumahtangga guna menunjang kegiatan perekonomian keluarga. Saat
ini makna arisan mulai bergeser seiring perubahan jaman. Arisan yang dulunya
menjadi ajang kegiatan keuangan mikro (microfinance),
sekarang bergeser menjadi ajang aktualisasi diri khas perempuan. Tidak hanya
ibu-ibu yang terlibat dalam kegiatan ini, bahkan anak sekolahan pun juga bisa
mengadakan arisan. Bahkan, ada kegiatan arisan plus yang menjadi kegiatan yang
menjurus ke arah seksual, biasanya budaya pop itu terjadi di kota-kota besar
yang dipenuhi sosialita.
Dulunya arisan menjadi budaya khas
Indonesia yang mementingkan kedisiplinan menabung dan membayar hutang, yang
bisa menghemat atau mendukung kegiatan perekenonomian keluarga, kini muncul
sub-budaya berupa pemborosan atau pengeluaran ekstra. Misalnya nih, ada
kelompok arisan A mengadakan arisan dengan kocokan arisan setiap sebulan
sekali, nah pastinya ada yang membawa barang dagangan tuh, biasanya sih para
perempuan langsung “hijau” melihat barang-barang yang menggiurkan mata itu
untuk dibeli, akhirnya barang yang bukan menjadi kebutuhan dibeli juga karena azas
keinginan semata. Ada yang bayar cash bahkan kredit, yang bikin makin nggak
efisien ya kredit itu, apalagi kalau ada system cicilan berbunga. Nggak cuma itu,
pemborosan bisa terjadi juga lewat pengeluaran untuk dresscode arisan setiap bulannya yang selalu berbeda-beda temanya. Pastinya
nggak mengeluarkan budget yang
sedikit dunk? Belum lagi mengadakan arisannya di café atau resto-resto mahal,
wah.. berapa duit itu sudah yang dikeluarkan? Apa seperti itu masih dibilang
hemat kalau ikutan arisan. Kalau diadakan di setiap rumah anggota arisan dan
nggak pakai dresscode sih,
pengeluaran masih bisa diminimalisir.
Saya sepakat apabila Ligwina Hananto
(perencana keuangan) memasukkan arisan sebagai pengeluaran rutin, bukan
termasuk saving. Karena, iuran arisan
dikeluarkan secara berkala dalam jangka waktu tertentu.
Pada dasarnya perempuan lebih suka
melakukan sosialisasi, dan arisan menjadi wadah untuk beraktualisasi diri para
perempuan. Nggak jarang arisan menjadi ajang pamer kepemilikan diri seperti
barang-barang yang dikenakan di tubuh, atau bahkan membanding-bandingkan
jaringan, anak, bahkan suami mereka. Intinya arisan nggak lagi menjadi kegiatan
konvesional, sekedar ngumpul sebentar lalu mengocok giliran penerima uang
arisan, tetapi juga untuk memperluas jaringan.
Sekarang malah ada arisan online,
dan nggak jarang itu merupakan money game dengan mematok kontribusi registrasi yang sedikit, dengan
perhitungan kalau tidak dapat ya nggak akan rugi. ada juga modus penipuan lewat
arisan online. Studi kasus si A seorang mahasiswi pernah ikutan arisan online
yang bisa mendapatkan sepeda motor, sayangnya dua bulan arisan baru berjalan,
si Bandar hilang entah kemana, dan tidak bisa dihubungi sama sekali. Wah,
berarti harus berhati-hati ya!
Adapun beberapa segi positif atau
keuntungan dari arisan seperti yang dikutip saya dari perencanakeuangan.com,
yaitu:
- Ajang silaturrahim
Kata orang bijak, silaturrahim akan memanjangkan umur. Siapa sih yang
tidak mau panjang umur? Ada banyak tips kesehatan untuk memanjangkan umur. Tapi
saya rasa masih lebih mudah dan murah untuk bersilaturrahim dengan arisan untuk
memanjangkan umur.
- Mendapatkan kenalan baru
Bagi Anda yang menjadi orang baru di suatu lingkungan atau organisasi,
ini adalah sarana yang efektif untuk mendapat kenalan baru. Bukan cuma anggota
arisan, terkadang ada juga anggota arisan yang membawa teman atau keluarganya
mengikuti pertemuan arisan. Dalam ilmu pemasaran, setiap kenalan akan menjadi
captive market Anda.
- Sarana pemasaran dan membuat jaringan
Kalau Anda perhatikan, dalam setiap pertemuan arisan, selalu saja ada
yang membawa barang dagangan untuk dipasarkan disitu. Entah itu makanan,
pakaian, bahkan sampai perhiasan. Kalau Anda sesuatu untuk dipasarkan, saya
rasa pertemuan arisan bisa menjadi tempat yang bagus untuk memasarkannya. Tidak
harus dalam bentuk barang, keahlian Anda pun bisa dipasarkan disana. Dan tidak
harus dengan terang-terangan menawarkan jasa karena dengan memperkenalkan diri
sebagai penjahit misalnya, Anda secara tidak langsung sudah menawarkan jasa
jahitan kepada mereka.
- Sarana belajar menabung
Ini adalah alasan kebanyakan orang ketika memutuskan untuk ikut arisan,
sebagai sarana belajar menabung. Karena biasanya, kalau orang lain yang menagih
kita untuk ikut arisan itu akan lebih efektif daripada kita menagih diri kita
sendiri untuk menabung.
Tapi
seringkali orang lupa, bahwa yang namanya belajar menabung, tidak harus
seterusnya, cukup sampai sudah bisa berdisiplin untuk menabung sendiri. Kalau
memang sudah bisa menabung sendiri, buat apa lagi pakai arisan sebagai sarana
belajar. Kan Anda sudah bisa melakukannya sendiri?
- Proses perencanaan keuangan
Nah, alasan ini sangat cocok untuk Anda yang punya keinginan untuk
membeli sesuatu tapi ga mau repot menyimpan uang sampai terkumpul. Atau malah
sengaja ingin mempercepat memilikinya daripada mengumpulkan uangnya dan
menunggu sampai cukup. Kalau mengumpulkan uangnya sendiri, kita baru bisa
membelinya kalau uangnya sudah terkumpul semua. Tapi dengan ikut arisan, walau
tidak pasti, kita kan punya kesempatan untuk bisa memilikinya lebih awal. Tapi
ingat, ini undian. Jadi jangan mengandalkan arisan ini kalau kebutuhannya
mendesak dan sudah pasti waktunya. Arisan hanya efektif digunakan sebagai
sarana perencanaan keuangan kalau yang ingin Anda beli memang tidak terlalu
mendesak dan bisa fleksibel waktunya. Dan kalau mau lebih efektif lagi, saya
sarankan agar ikut saja arisan barang yang memang sesuai dengan kebutuhan kita
itu.
Kalo sisi negatif dari arisan menurut
Yusnita Febri sih sebagai berikut:
- Uang arisan di bawa lari pemegang. Kemungkinan ini kecil terjadi, apabila diantara peserta dan pemegang arisan sudah saling kenal.
- Arisan berhenti ditengah-tengah putaran. Biasanya terjadi apabila salah satu anggota tak mampu membayar uang arisan. Untuk itulah pentingnya arisan tidak di lakukan dalam waktu yang cukup lama.
- Tak ada dokumen tertulis untuk para peserta arisan apabila terjadi kecurangan. Dalam hal ini di butuhkan sistem saling percaya antara semua peserta.
- Bisa jadi anjang gosip dan pamer. Maka dari itu sebaiknya hindari yang begini.
Jadi, buat kamu yang ingin beraktualisasi diri lewat arisan,
sah-sah saja kok. Asal tahu kondisi, resiko, dan menanamkan trust antar
anggota, dan tidak akan mengganggu kondisi perekonomian kita sih, silahkan aja! :)
Dilema Kehidupan Anak Jalanan (pengamen) dan Penjual Koran di Perempatan ITN Malang
Dunia dengan segala realita yang ada tak mungkin tetap, selalu saja
ada perubahan sosial yang terjadi secara lamban maupun cepat. Perubahan
social mengakibatkan berbagai konflik, anomali sosial, atau
kesejahteraan. Semua akan berdampak secara multidimensional di segala
seluk kehidupan. Masalah kehidupan dapat dilihat melalui segala bidang
seperti ekonomi, psikologis, social, budaya, bahkan kriminal. Salah satu
dari sekian banyak masalah, ada satu masalah yang klise dimana hingga
saat ini pemerintah atau negara manapun di dunia ini belum dapat
menyelesaikan masalah ini, terutama di Indonesia. Anak jalanan. Anak
jalanan merupakan masalah klise yang terjadi di negara ini. Bagi
masyarakat,anak jalanan lebih sering mengalami dekadensi moral yang
diakibatkan oleh pergaulan dan pengaruh lingkungan yang tak biasa
diajarkan tata krama seperti yang diajarkan pada anak-anak di sekolah
pada umumnya. Padahal tak semua anak jalanan seperti itu. Bahkan, tak
sedikit juga dari kalangan akademisi yang mengalami dekadensi moral jauh
lebih parah disbanding anak jalanan. Perbedaan hanya terselubung dan
transparan saja. Begitu pelik masalah yang dihadapi oleh bangsa ini.
Tapi mengapa pemerintah kurang memperhatikan masalah yang menyangkut
pada kesejahteraan rakyat, terutama generasi penerus bangsa yang
merupakan agent of change atau agen perubahan? Apakah masalah anak
jalanan ini terlalu sepele bagi sebagian anggota DPR dan MPR sehingga
tidak terlalu penting untuk diselesaikan?
Di sepanjang jalan di daerah manapun pasti akan ditemui anak jalanan
yang bergerombol, berebutan rejeki, mencari nafkah guna memenuhi
kebutuhan sehari-sehari mereka yang semakin mendesak. Harga sembako dan
pendidikanpun semakin mahal, sehingga keluarga para anak jalanan tak
mampu membiayai pendidikan mereka. Akhirnya, generasi penerus bangsa
itupun terpaksa berhenti sekolah dan rentan akan tindak criminal. Faktor
ekonomi dan pendidikan merupakan alasan utama yang menjadikan mereka
sebagai anak jalanan. Mengenyam pendidikan merupakan makanan yang tak
sanggup mereka konsumsi lagi. Yang mereka pikirkan hanyalah memenuhi
kebutuhan sehari-hari mereka guna melangsungkan kehidupan. Mengenyangkan
perut lebih penting daripada mengenyangkan otak mereka dengan
teori-teori yang belum tentu teraplikasikan dalam hidup mereka, mungkin
itulah pikiran anak jalanan ketika mereka memutuskan terjun dalam dunia
jalanan.
Oleh karena itu, kami para penyusun observasi ini ditugaskan oleh
panitia PRA-LKP2M untuk melaksanakan observasi mengenai anak jalanan
dengan spesifikasi pengamen dan penjual Koran yang berada di perempatan
ITN. Banyak pertanyaan yang muncul dalam benak penyusun, sehingga
akhirnya observasi inipun Bagaimana kehidupan anak jalanan (pengamen)
dan penjual koran sehari-hari di perempatan ITN? Bagaimana pandangan
para pengguna jalan raya dengan adanya anak jalanan (pengamen) dan
penjual Koran di perempatan ITN? Apakah para pengguna jalan merasa
terganggu dengan adanya anak jalanan (pengamen) dan penjual Koran di
perempatan ITN ? Apakah selamanya mereka akan hidup di jalanan tanpa
memikirkan masa depannya kelak? Bagaimana Negara yang besar dan kaya
seprti Indonesia tidak dapat menyelesaikan masalah seperti ini? Siapakah
yang harus disalahkan? Sistem ataukah manusianya?
Pada hari Selasa tanggal 25 Maret 2008, kelompok Duta Masyarakat yang
beranggotakan Indah, Endahing, dan Musta’in telah melakukan observasi
kecil terhadap anak jalanan (pengamen) dan penjual koran di perempatan
ITN.
Tercatat ada kurang lebih sepuluh pengamen yang terdiri dari anak kecil, remaja, bahkan orang dewasa yang berasal dari kampung yang sama yaitu daerah Dinoyo. Anak kecil berumur antara 10-12 tahun, remaja berumur antara 16-18 tahun, dan orang dewasa berumur antara 21-40 tahun. Dominan para pengamen berjenis kelamin pria, sedangkan wanita hanya ada 2 orang yaitu anak kecil berumur kurang lebih 11 tahun, dan orang dewasa berumur kurang lebih 40 tahun.
Saat Indah dan Endahing melakukan wawancara, beberapa pertanyaan
dilontarkan begitu saja tanpa direncanakan terlebih dahulu, namun tidak
menyimpang dari tujuan utama observasi, dengan maksud agar anak jalanan
tidak merasa canggung ketika memberikan keterangan atau jawaban yang
sebenarnya.
Bambang berusia 16 tahun, salah satu anggota anak jalanan yang turut mengamen di perempatan ITN mengaku bahwa dia tidak sekolah lagi, dan kini berprofesi sebagai seorang pengamen bersama teman-temannya berasal dari kampung yang sama. Dia memutuskan menjadi seorang pengamen sejak tahun 2005 atas kemauan sendiri. Namun, menurut Endahing, kemungkinan tidak hanya kemauan sendiri melainkan juga diajak oleh teman sepermainan di kampungnya, dan juga faktor ekonomi yang semakin mendesak untuk terus melangsungkan kehidupan mereka. Selama ini, Bambang menikmati profesinya sebagai seorang anak jalanan, walaupun terkadang terbesit keinginan untuk berubah menjadi lebih baik dengan berganti profesi yang layak. Namun, sampai saat ini belum juga ada pihak yang mau menerimanya bekerja dengan alasan skill kurang mendukung. Dia juga masih ingin sekolah seperti anak-anak lain, namun apalah daya keluarganya tidak mampu membiayai sekolah Bambang lagi, sehingga membuat Bambang sekarang membantu perekonomian keluarga dengan jalan menjadi seorang pengamen.
Bambang berusia 16 tahun, salah satu anggota anak jalanan yang turut mengamen di perempatan ITN mengaku bahwa dia tidak sekolah lagi, dan kini berprofesi sebagai seorang pengamen bersama teman-temannya berasal dari kampung yang sama. Dia memutuskan menjadi seorang pengamen sejak tahun 2005 atas kemauan sendiri. Namun, menurut Endahing, kemungkinan tidak hanya kemauan sendiri melainkan juga diajak oleh teman sepermainan di kampungnya, dan juga faktor ekonomi yang semakin mendesak untuk terus melangsungkan kehidupan mereka. Selama ini, Bambang menikmati profesinya sebagai seorang anak jalanan, walaupun terkadang terbesit keinginan untuk berubah menjadi lebih baik dengan berganti profesi yang layak. Namun, sampai saat ini belum juga ada pihak yang mau menerimanya bekerja dengan alasan skill kurang mendukung. Dia juga masih ingin sekolah seperti anak-anak lain, namun apalah daya keluarganya tidak mampu membiayai sekolah Bambang lagi, sehingga membuat Bambang sekarang membantu perekonomian keluarga dengan jalan menjadi seorang pengamen.
Alek, seorang remaja yang beranjak dewasa berusia 17 tahun, juga
mengalami nasib sama seperti Bambang. Tetapi, menurut keterangan dirinya
dia masih sekolah kelas 3 di SMP Ma’arif. Entah keterangannya benar
atau tidak hanya Allah dan dia yang tahu. Alek menjadi seorang pengamen
sejak kecil. Alek memutuskan menjadi seorang pengamen hanya untuk
memenuhi kebutuhannya sendiri. Dia mengaku bahwa uang hasil mengamen
yang didapatkan selain digunakan untuk makan, juga untuk membeli rokok.
Ketika Endahing memberi pilihan, lebih memilih makanan atau rokok,
mereka menjawab dengan kompak menjawab rokok menjadi pilihannya.
Endahing berpikir, apakah mengamen hanya untuk merokok? Lalu bagaimana
dengan kebutuhan pokok mereka sehari-hari, bahkan keluarga yang mereka
bantu?
Agung, bocah remaja berusia 18 tahun, diantara kelompok pengamen dia
merupakan salah satu yang lebih dewasa dibanding Bambang dan Alek. Cara
penyampaian jawaban mencerminkan dia termasuk pengamen yang sopan,
bahkan terlihat masih tersisik dibanding yang lain. Agung menjadi
seorang anak jalanan sejak kecil, dengan alasan klise, karena faktor
ekonomi. Kebutuhan sehari-hari yang terus menuntut untuk dipenuhi, maka
akhirnya Agung terjun ke dunia anak jalanan. Dia tidak seklah, sama
seprti Bambang. Menjadi anak jalanan bukanlah pilihannya, namun keadaan
menuntut untuk menjadikan dirinya sebagai profesi yang dianggap negatif
bagi beberapa kalangan masyarakat.
Bambang, Alek, dan Agung beserta anggota kelompoknya yang lain
“mangkal” di perempatan ITN sejak pagi hingga malam. Mereka berangkat
dan pulang bersama, karena berasal dari kampung yang sama. Pendapatan
mengamen mereka tak menentu, tergantung hari dan waktu. Pendapatan
mereka antara Rp.5000,00 hingga Rp.20.000 per hari. Menurut Agung,
mereka mendapat uang lebih banyak pada hari Sabtu dan Minggu sore.
Mereka tak hanya mendapatkan uang, tetapi juga ada yang memberi mereka
rokok dan permen. Bagi Bambang, Alek, dan Agung ketika diberi rokok,
mereka menerimanya, lain lagi dengan si kecil, dia menolak dengan
berkata ,”Mpun, Pak! Mboten usah!”. Ternyata si kecil lebih memilih uang
daripada rokok. Bagi pengamen kecil menggunakan alat ecrek-ecrek bila
mengamen, sedangkan bagi pengamen remaja menggunakan gitar kecil atau
biasa disebut dengan kompreng. Agung mengaku bahwa gitar kecil itu
didapatkan dari Bambang membelinya dengan harga Rp.40.000,00. Uang untuk
membeli gitar kecil itu berasal dari jerih payah mereka. Banyak suka
dan duka yang mereka alami selama menjadi seorang anak jalanan. Sukanya,
karena mereka selain bisa mencari uang sendiri, mereka bisa mengenal
pengamen dari daerah lain. Dukanya, terkadang mereka harus berurusan
dengan pihak berwajib, siapa lagi kalau bukan polisi dan pamong praja
yang bertugas untuk menertibkan kawasan umum dari anak jalanan. Mereka
tidak mengetahui kapan pamong praja datang dan siap untuk menjaring
siapapun yang merusak pemandangan kawasan yang ditertibkan tersebut.
Ketika pamong praja datang, mereka berlari untuk bersembunyi. Apabila
pamong praja atau polisi terus mengitari daerah mereka “mangkal”, maka
para pengamen memutuskan pulang, tetapi sebaliknya, mereka kembali
“mangkal” dean melanjutkan untuk mengamen. Kejadian seperti itu telah
menjadi makanan sehari-hari bagi para pengamen di perempatan ITN. Tak
jarang mereka tidak beruntung, saat pamong praja melakukan penertiban,
ada juga pengamen yang tertangkap. Menurut keterangan Alek dan Agung,
ketika tertangkap dan dibawa ke kantor, tak pelak pukulan para pihak
berwajib menghujani tubuh mungil mereka yang bukan merupakan lawan yang
imbang. Endahing berpikir, apakah itu cerminan dunia hukum di negara
kita? Apakah dengan memukul anak jalanan dapat menyelesaikan masalah?
Apakah dengan pukulan dapat menjerakan para pengamen? Ternyata tidak,
ketika mereka dibebaskan dengan tebusan yang tak murah menurut Agung
antara Rp.300.000,00-Rp.500.000,00 oleh seseorang mungkin tetangga
mereka atau “kepala jaringan anak jalanan”, mereka tetap mengamen
seperti biasanya. Beberapa waktu lalu disiarkan di salah satu program
berita televisi swasta, episode saat itu membahas tentang jaringan anak
jalanan yang dijadikan sebagai copet dimana itu merupakan profesi lain
selain menjadi pengamen. Jadi, anak jalanan selain mengamen, ada oknum
menawari pekerjaan lain pada anak jalanan. Oknum tersebut terus
mempengaruhi si anak untuk bergabung dalam jaringan anak untuk mencopet.
Sebagian besar, anak jalanan terpengaruh dengan bujuk rayu, dan
akhirnya bergabunglah mereka dalam suatu wadah yang telah terorganisir
yaitu pencopetan. Dominan alasan anak jalanan menerima tawaran oknum
tersebut, selain karena desakan kebutuhan semakin bertambah, tetapi juga
bergabung dengan organisasi tersebut hidup mereka terjamin, segala
kebutuhan hidup mereka dipenuhi, apabila tertangkap saat melakukan
operasi maka bos mereka akan menebus hingga mereka bebas kembali.
Sebagai awal untuk menjadi seorang pencopet handal ialah seminggu
sebelumnya anak jalanan tersebut diajari cara mencopet yaitu mengambil
kuning telur dalam minyak atau air. Jika sudah mampu, maka mereka akan
dilepas untuk praktek langsung. Sasaran meeka rata-rata para ibu dan
anak muda yang lengah menjaga barang berharga mereka. Barang berharga
yang biasa diambil kebanyakan telepon genggam, dompet atau perhiasan
lain.
Karena, acara tersebut salah satu penulis sempat curiga, apakah
anak-anak jalanan yang berada di perempatan ITN telah teroganisir
sebelumnya ataukah tidak, apalagi mereka berasal ari kampung yang sama.
Terutama saat mereka tertangkap oleh pihak berwajib, mereka ditebus
dengan harga yang terglong tinggi bagi masyarakat tidak mampu seperti
mereka. Saat ditanya oleh Endahing mengenai siapa yang menebus mereka
saat tertangkap, terlihat bahwa mereka menutupi sesuatu dengan
melontarkan jawaban kurang logis.
Tidak selamanya anak jalanan tercerminkan negatif. Agung mengungkapkan bahwa 1,5 bulan yang lalu di pertengahan Januari, dia mengikuti Lomba Cipta Lagu Anak Jalanan yang diadakan salah satu LSM yang bertindak di bidang kekerasan anak, dia memenangkan juara tiga se-Malang Raya. Ini patut diacungi jempol, karena walaupun mereka menjadi anak jalanan, mereka masih bisa berprestasi. Alangkah baiknya, ketika pemerintah menaungi mereka dengan mengasah potensi terpendam anak jalanan, tetapi pemerintah lebih sibuk mengurusi urusan intern yang lebih menguntungkan golongannya sendiri. Karena penulis ingin tahu lebih banyak, maka penulis mengajukan pertanyaan. Siapakah yang membiayai pendaftaran saat lomba itu? Agungpun menjawab bahwa piha RW membiayai pendaftaran kompetisi cipta lagu anak jalanan tersebut. Bila menilik ke pihak pemerintah (Rukun Warga),berarti mereka telah mengetahui bahwa ada warganya yang tidak mampu dan terpaksa menjadi anak jalanan. Jika seperti itu, sebagai ketua RW yang bijak, mengapa anak-anak tersebut tidak dicarikan beasiswa guna melanjutkan pendidikan mereka? Daripada mereka terus mengamen di jalanan yang belum tentu membuat pengguna jalan merasa aman dan nyaman dengan adanya anak jalanan di tengah-tengah perjalanan mereka. Mengapa pihak pemerintah di kampung malah mendukung mereka menjadi anak jalanan dengan cara seperti tadi? Walaupun cara mendukungnya itu tidak transparan atau secara tidak langsung.
Tidak selamanya anak jalanan tercerminkan negatif. Agung mengungkapkan bahwa 1,5 bulan yang lalu di pertengahan Januari, dia mengikuti Lomba Cipta Lagu Anak Jalanan yang diadakan salah satu LSM yang bertindak di bidang kekerasan anak, dia memenangkan juara tiga se-Malang Raya. Ini patut diacungi jempol, karena walaupun mereka menjadi anak jalanan, mereka masih bisa berprestasi. Alangkah baiknya, ketika pemerintah menaungi mereka dengan mengasah potensi terpendam anak jalanan, tetapi pemerintah lebih sibuk mengurusi urusan intern yang lebih menguntungkan golongannya sendiri. Karena penulis ingin tahu lebih banyak, maka penulis mengajukan pertanyaan. Siapakah yang membiayai pendaftaran saat lomba itu? Agungpun menjawab bahwa piha RW membiayai pendaftaran kompetisi cipta lagu anak jalanan tersebut. Bila menilik ke pihak pemerintah (Rukun Warga),berarti mereka telah mengetahui bahwa ada warganya yang tidak mampu dan terpaksa menjadi anak jalanan. Jika seperti itu, sebagai ketua RW yang bijak, mengapa anak-anak tersebut tidak dicarikan beasiswa guna melanjutkan pendidikan mereka? Daripada mereka terus mengamen di jalanan yang belum tentu membuat pengguna jalan merasa aman dan nyaman dengan adanya anak jalanan di tengah-tengah perjalanan mereka. Mengapa pihak pemerintah di kampung malah mendukung mereka menjadi anak jalanan dengan cara seperti tadi? Walaupun cara mendukungnya itu tidak transparan atau secara tidak langsung.
Dilema kehidupan tidak hanya dialami oleh anak jalanan atau pengamen,
tetapi juga penjual koran. Pada saat observasi dilakukan ada dua penjual
koran, seorang pemuda dan pria parobaya. Dua penjual koran tersebut
hampir sama nasibnya seperti para pengamen yang ada di perempatan ITN.
Mereka sama-sama kesulitan ekonomi, dan harus memenuhi kebutuhan mereka.
Mereka bekerja untuk mencari sesuap nasi. Perbedaannya dari cara kerja
dan profesi mereka saja. Pengamen dan penjual koran. Bagi sebagian
masyarakat, profesi sebagai penjual koran lebih baik daripada pengamen.
Padahal menurut penulis sama saja, pengamen menjual suara termasuk dalam
bidang seni, sedangkan penjual koran menjual barang dagangan secara
fisik. Memang kelihatannya masih lebih beradab penjual koran.
Para penjual koran itu “mangkal” untuk menjajakan barang dagangan sejak pagi sampai sore, menunggu barang dagangannya habis atau tingal sedikit hingga tak membuat mereka rugi banyak. Mereka menjajakan korannya ketika lampu merah menyala di perempatan itu. Peluh membajiri raut wajah coklat tua mereka, menandakan mereka tak menyerah untuk mencari nafkah demi keluarga di rumah, demi anak-anak mereka yang setia menunggu untuk mendapatkan uang jaja, istri mereka yang setia untuk menerima hasil penjualan koran dan api komporpun dapat dinyalakan lagi. Miris ketika penulis mendengar liku hidup mereka yang begitu rumit. Benar-benar perjuangan yang perlu dihargai dan dapat menjadi teladan bagi para akademisi atau kalangan lain.
Para penjual koran itu “mangkal” untuk menjajakan barang dagangan sejak pagi sampai sore, menunggu barang dagangannya habis atau tingal sedikit hingga tak membuat mereka rugi banyak. Mereka menjajakan korannya ketika lampu merah menyala di perempatan itu. Peluh membajiri raut wajah coklat tua mereka, menandakan mereka tak menyerah untuk mencari nafkah demi keluarga di rumah, demi anak-anak mereka yang setia menunggu untuk mendapatkan uang jaja, istri mereka yang setia untuk menerima hasil penjualan koran dan api komporpun dapat dinyalakan lagi. Miris ketika penulis mendengar liku hidup mereka yang begitu rumit. Benar-benar perjuangan yang perlu dihargai dan dapat menjadi teladan bagi para akademisi atau kalangan lain.
Seorang pemuda salah satupenjual koran mengaku bahwa ia memiliki seorang
ayah yang bekerja sebagai satpam di Universitas Islam Negeri Malang
dimana merupakan kampus tempat penulis memuaskan otak dan pemikiran
mereka guna menyabet sebuah gelar yang dapat diakui di masyarakat, tak
diremehkan seperti anak jalanan dan penjual koran. Pemuda itu
berulangkali melamar kerja di UIN Malang sebagai cleaning service, tapi
takdir berkata lain hingga keberuntungan belum memihak padanya,
berulangkali pula pemuda itu masih belum diterima sebagai cleaning
service di universitas yang terkenal dengan motto ulul albabnya ini dan
sebutan sebagai bilingual university. Setiap harinya, penjual koran
mendapatkan hasil yang pas-pasan bahkan pernah rugi, karena koran yang
terjual hanyasedikit sehingga mereka tak dapat balik modal. Tapi mereka
tak pernah menyerah. Pernah ada pikiran untuk berubah. Hanya saja belum
ada kesempatan bagi mereka, ataukah belum ada pihak yang bersedia untuk
mereka dan memberikan perubahan berarti bagi para penjual koran itu.
Semua orang pasti memiliki mimpi, hanya kemauan, usaha, dan kesempatan
sebagai modal guna mewujudkan mimpi-mimpi tersebut agar menjadi
kenyataan.
Setelah mengetahui sebagian hidup para pengamen dan penjual koran,
beralih pada para pengguna jalan. Karena, pengguna jalan masih kesatuan
dalam hubungan antara pengamen dan penjual koran. Apabila tidak ada
pengguna jalan, maka pengamen dan penjual koran tidak dapat bertransaksi
satu sama lain. Pengamen tidak akan bisa menjual suaranya dan mendapat
upah dari pengguna jalan, dan penjual koran tak dapat menjual koran dan
mendapatkan pembeli jika tak ada pengguna jalan. Pengguna jalan
merupakan komoditas atau sasaran utama para pengamen dan penjual koran,
karena pengguna jalan merupakan ladang mencari rejeki bagi pengamen dan
penjual koran.
Secara empiris, memang demikian adanya. Pengguna jalan, penjual koran,
dan pengamen adalah suatu ikatan atom yang tak dapat dipisahkan lagi,
mereka memiliki hubungan emosional dan keterkaitan satu sama lain. Jika
diibaratkan seperti suami istri, maka mereka ialah pasangan sejati.
Ketiganya dapat memunculkan simbiosis mutualisme. Tapi, apakah simbiosis
mutualisme itu selamanya ada diantara ketiganya? Bagaimana jika salah
satu darinya merasa tidak nyaman, mungkin pertanyaan itu lebih cocok
ditujukan bagi para pengguna jalan.
Perempatan ITN merupakan tempat strategis, jalannya selalu ramai
dipenuhi kendaraan bermotor yang berlalu lalang dari pagi hingga pagi
lagi. Di perempatan ITN tersebut dekat dengan berbagai pusat pendidikan,
perbelanjaan, dan lain-lain yang tak akan pernah lengang oleh kendaraan
bermotor. Pengguna jalan akan selalu lewat perempatan itu. Suasana
perempatan itu juga enak dipandang, sehingga membuat para pengguna jalan
merasa nyaman apabila melewati jalanan tersebut. Tapi, beberapa
pengguna jalan merasa tidak nyaman atau terganggu ketika perempatan
tersebut dijadikan sebagai tempat pengamen untuk mengamen, dan penjual
koran. Mereka merasa terganggu saat lampu merah menyala sebagai tanda
berhenti bagi pengguna jalan untuk bergantian memakai perempata, pada
saat itulah pengamen mulai beraksi. Para pengamen menyanyikan lagu-lagu
populer yang tak asing didengar lalu meminta bayaran, padahal pengguna
jalan tersebut tidak meminta pengamen menghampirinya lalu menyanyi di
depan dan meminta upah atas nyanyian pengamen. Tak jarang para pengamen
merasa tidak tega dan akhirnya terpaksa memberi pengamen upah walaupun
uang receh. Seperti yang diungkapkan Wahyu, mahasiswa jurusan Teknologi
Pangan Universitas Brawijaya (UB) Malang semester 8 yang berdomisili di
jalan Bandung, salah satu pengguna jalan di perempatan ITN mengaku bahwa
merasa terganggu karena bisa saja para pengamen itu mencopet atau
melakukan tindak kriminal terhadap dirinya, apalagi ia menggunakan
sepeda motor yang rentan akan tindak kriminal. Wahyu ragu akan
mengeluarkan dompetnya untuk memberi uang receh pada pengamen karena
dengan alasan yang tadi, selain itu dengan adanya pengamen dan anak
jalanan lainnya merusak pemandangan daerah tersebut sehingga tidak sedap
dipandang mata. Lain lagi dengan pendapat Uswatun Hasanah, salah satu
mahasiswi jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) semester 2 di Universitas
Islam Negeri Malang. Dia mengungkapkan bahwa dia merasa biasa saja
dengan adanya para pengamen dan penjual koran. Dia tidak merasa
terganggu apabila mereka tidak mengancam keamanan dan kenyamanan
dirinya, namun dia pernah merasa terganggu apabila saat ada pengamen dia
tidak memiliki uang kecil untuk diberikan pada pengamen itu. Uswatun
merasa akan dianggap pelit oleh pengamen tersebut, apalagi dia berjilbab
dimana merupakan cerminan agamanya. Sama halnya dengan Nailul Amani
Al-Misriyah yang akrab dipanggil Nelly, mahasiswi semester 2 jurusan
Bahasa dan Sastra Arab Universitas Islam Negeri Malang, dia juga
mengungkapkan bahwa dia akan merasa terganggu dengan adanya para
pengamen jika dia tak punya uang receh untuk diberikan pada pengamen
tersebut.
Pada intinya, pengguna jalan tidak akan merasa terganggu akan kehadiran
para pengamen jika tak mengancam keamanan dan kenyamanan diri mereka,
dan mereka mampu memberikan uang receh sebagai bentuk upah atas nyanyian
para pengamen.
Hari semakin sore, jam menunjukkan pukul 17.00 WIB. Kesibukan di perempatan ITN itu tetaplah ramai bahkan semaki memenuhi jalan, karena saat itu jam pulang kerja atau orang mengunjungi mall dekat perempatan itu yaitu Malang Town Square (MATOS). Akhirnya para penulis memutuskan kembali ke aktivitas mereka seperti biasa. Endahing meminta Agung, salah satu pengamen untk menyanyikan salah satu lagu yang biasa dimainkan saat mengamen. Sebagian lirik menarik Endahing, yaitu di reff-nya.”….ataukah sistemnya yang salah? Ini salah siapa?”, lagu itu berjudul Ini Salah Siapa?, lagu itu didapat dari selebaran-selebaran lagu baru bagi para pengamen. Selebaran itu disebarkan dari pengamen satu ke pengamen lain. Mereka belajar not lagu juga dari teman pengamen yang lain. Dari secuil lirik lagu tersebut semoga menjadi cambuk bagi pemerintah untuk terus memperbaiki sistem yang berlaku di negara ini, tanpa ada penyelewengan hukum lagi. Semua butuh waktu dan proses, serta bantuan dari semua pihak Anak jalanan, pengamen, penjual koran, bahkan para pengguna jalan terus menanti matahari kesejahteraan terbit. (artikelku jaman 2008)
Hari semakin sore, jam menunjukkan pukul 17.00 WIB. Kesibukan di perempatan ITN itu tetaplah ramai bahkan semaki memenuhi jalan, karena saat itu jam pulang kerja atau orang mengunjungi mall dekat perempatan itu yaitu Malang Town Square (MATOS). Akhirnya para penulis memutuskan kembali ke aktivitas mereka seperti biasa. Endahing meminta Agung, salah satu pengamen untk menyanyikan salah satu lagu yang biasa dimainkan saat mengamen. Sebagian lirik menarik Endahing, yaitu di reff-nya.”….ataukah sistemnya yang salah? Ini salah siapa?”, lagu itu berjudul Ini Salah Siapa?, lagu itu didapat dari selebaran-selebaran lagu baru bagi para pengamen. Selebaran itu disebarkan dari pengamen satu ke pengamen lain. Mereka belajar not lagu juga dari teman pengamen yang lain. Dari secuil lirik lagu tersebut semoga menjadi cambuk bagi pemerintah untuk terus memperbaiki sistem yang berlaku di negara ini, tanpa ada penyelewengan hukum lagi. Semua butuh waktu dan proses, serta bantuan dari semua pihak Anak jalanan, pengamen, penjual koran, bahkan para pengguna jalan terus menanti matahari kesejahteraan terbit. (artikelku jaman 2008)
Kamis, 07 Maret 2013
PENANGANAN PERMASALAHAN PSIKOLOGIS DI LEMBAGA PERMASYARAKATAN WANITA KELAS II A SUKUN - MALANG (Psikodiagnostik III)
HASIL WAWANCARA
Wawancara
ini dilaksanakan pada proses pelaksanaan studi lapangan di Lembaga
Permasyarakat Wanita Kelas IIA Sukun, Malang, tepatnya di aula serbaguna di
samping pewawancara lain. Interviewer terdiri atas menggunakan inisial A dan E dengan narasumber salah satu narapidana Lapas Wanita
yang bertempat di Blok IV kamar 1 yaitu B (inisial ibu Beng) yang berusia 42
tahun. Berikut proses wawancara kami:
A : Assalaamu’alaikum, ibu. (sembari bersalaman dengan B, disusul
E menyalami B). Saya Azizah, dan ini teman saya Enda ingin meminta waktu ibu
sebentar guna wawancara. Kami harap ibu berkenan kami wawancarai.
B : Iya, nggak apa-apa, mbak. (tersenyum)
E : Sebelumnya maaf, bu. Apabila kami menggangu aktivitas ibu.
Bisa dimulai ?
B : (mengangguk)
A : Siapa nama ibu? Dan berusia berapa sekarang ?
B : Nama saya Beng, mbak. Umur saya sudah 42 tahun.
E : Ibu berasal darimana?
B : Saya asli Pemalang, Jawa Tengah.
A : Ibu sudah berapa lama di sini?
B : Sudah setahun tiga hari, mbak. Jadi saya ninggal anak saya yang
di Pemalang, mbak. Saya khawatir sekali dengan anak-anak saya.
E : Oh, putra putri ibu ada berapa?
B : Anak saya empat, mbak. 3 laki-laki, 1 perempuan. Masih
kecil-kecil, mbak. Yang paling besar berumur 12 tahun, dan yang paling kecil
umurnya 2 tahun.
A : Berarti anak-anak sekarang tinggal sama bapak?
B : Nggak, mbak. Mereka tinggal sendiri, paling ada saudara saya
yang menemani sesekali. Suami saya sudah meninggal 3 sebelum saya di penjara.
A : Meninggal karena apa?
B : kecelakaan pas ikut proyek di Jakarta.
E : Bagaimana ceritanya ibu bisa sampai di sini?
B : Ceritanya panjang, mbak. (menahan tangis). Dulu saya pas ke
Jakarta selang suami saya meninggal, waktu itu saya kenalan sama seorang
laki-laki namanya Karyo di Grogol, pas dalam perjalanan pulang ke Pemalang. Karyo
dari Kalong (Pekalongan). Dia tanya alamat rumah saya, saya tanya kenapa? Kata
Karyo, ya nanti mungkin dia mau main ke rumah. Saya kasih alamat rumah saya di
Pemalang, mbak. Dua minggu kemudian, Karyo datang, dia bilang mau cari
pembantu. Kebetulan tetangga saya perempuan yang sudah bersuami, hanya saja dia
nggak suka sama suaminya dan berniat pergi dari rumah, mendengar kalau ada
orang mau cari pembantu. Dia datang ke rumah dan tanya ke saya, “Mbak Beng,
katanya ada orang mau cari pembantu ya? Saya ikut, mbak Beng. Saya ingin kerja.”.
kebetulan Karyo ada di situ, dan perempuan itu ikut Karyo ke Surabaya. Beberapa
lama kemudian, ada polisi datang ke rumah saya. Awalnya tanya orang yang
namanya Karyo, ya saya cerita apa adanya, mbak. Polisi cerita kalau tetangga
saya dijual jadi pelacur di Surabaya, tepatnya di Dolly. Dulu saya nggak tahu
Dolly itu apa. Ternyata tempat pelacuran resmi di sana. Tetangga saya sempat
melayani beberapa pelanggan, hanya saja dia nggak dibayar sama germonya. Lalu,
tetangga saya lapor ke polisi. Akhirnya saya yang ditangkap, mbak. Sebagai
ganti karena Karyo kabur, dan belum ditemukan polisi. Kata polisis di
Pekalongan, Karyo sering ditahan di sana. Sebenarnya Karyo yang dipenjara,
mbak. Saya hanya dijebak, tetapi saya terpaksa dipenjara dengan alasan
penipuan.
A : Lalu, bagaimana dengan anak-anak ibu waktu itu?
B : Waktu itu saya baru menyusui, mbak. Ya terpaksa saya tinggal.
Di kampusng saya nggak ada orang yang pernah ditahan, hanya saya saja, itu pun
di jebak. Para tetangga ya kaget semua, mbak. Karena, mendengar saya dipenjara.
Sebelum sampai di Malang, saya dibawa ke Surabaya dulu, mbak. Saya ditahan di
Medaeng tiga bulan, sambil nunggu proses pengadilan.
E : Ibu divonis berapa tahun?
B : Saya divonis 4 tahun penjara, mbak. Saya kaget, lha saya
tiba-tiba diberitahu kalau hukuman saya 4 tahun, padahal saya nggak ikut
persidangan waktu itu, sempat sesekali saja. Selama persidangan tetangga saya
sudah bela saya, mbak. Tapi, mau gimana lagi. Saya harus gantiin si Karyo.
Tapi, kata petugas Lapas hukuman saya dipotong 2 tahun, dapat remisi dari
pemerintah pas Lebaran kemarin. Tapi ya gitu, mbak. Saya harus mengikuti mas percobaan
dulu di penjara. Setelah divonis, saya langsung dibawa ke sini, mbak. (mengusap
pipi, karena menangis)
A : Bagaimana perasaan ibu selama di sini (Lapas) ?
B : Ya, nggak kerasan, mbak. Saya mikirin anak saya terus, rasanya
saya mau mati saja. Saya mikir anak saya kalau nggak da saya bagaimana, bisa
makan apa nggak. Sya stres banget, mbak.
E : kegiatan ibu di sini ngapain aja?
B : di sini ada programnya, mbak. Ada piket. Jadi pagi itu menyapu
dan beres-beres. Kalau sore sya jarang nonton tivi, mbak. Karena saya kerja di kebun,
saya menanam puhung, ketela, kalau sudah panen, dipakai buat tambahan makanan
di penjara. Ada kegiatan sholat berjama’ah, wajib ikut sholat Dhuhur dan
Maghrib.terus pengajian,kalau saya di dalam sel terus ya tambah kepikiran anak
saya. Kalau banyak kegiatan di sini kan enak, bisa nggak terlalu kepikiran
anak-anak. Dibanding dengan dulu ya perasaan saya massih baikan sekarang,
karena sibuk.
A : Bagaimana dengan orang-orang di sini,bu? Teman-temannya maupun
petugasnya?
B : Semuanya baik kok, mbak. Petugasnya sering kasih masukan ke
saya. Kalau teman-temannya juga akur. Malah kita ada arisan mie instan, mbak.
Jadi, siapa yang menang dapat mie banyak lalu kita bagi-bagi, dimakan bersama.
Ketua bloknya juga baik, namanya mami Cindy, dia narapidana dari Surabaya kena
kasus narkoba, dia orang Cina tapi sudah masuk Islam. Blok saya memang terkenal
kompak dan mudah diatur. Nggak kayak blok lain yang susah diatur.
E : Oh, begitu. Baik, ibu. Sekian dari wawancara kami. Terima
kasih atas perhatian dan kesediaan ibu serta kerjasamanya selama proses
wawancara berlangsung. Kami minta maaf apabila ada pertanyaa yang kurang
berkenan di hati ibu.
B : Sama-sama, mbak.
A&E : menyalami B secara bergantian.
KESIMPULAN
Dari kajian teori dan hasil wawancara, disimpulkan bahwa
Ibu Beng mengalami stres mendekati depresi, dikarenakan syok mendapat musibah,
sehingga tertekan dengan keadaan yang ada. Terlebih lagi, ibu Beng harus
meninggalkan anak-anaknya yang masih kecil. Ibu Beng mengalami gangguan
kecemasan yang lumayan tinggi. Apalagi, Ibu Beng dijebak oleh orang yang baru
dikenalnya. Fenomena tersebut sudah dianggap biasa, karena pada dasarnya
kehidupan di penjara tidak baik bagi kondisi psikologis individu.
Oleh sebab itu, Lapas menyusun dan melaksanakan
program-program guna mengembalikan atau mengurangi kondisi psikologis para tahanan
dan narapidana yang tidak baik kondisi psikisnya. Misalnya saja seperti
kegiatan sholat berjama’ah, pengajian, sharing, bekerja sesuai dengan piket,
mebuat kerajinan tangan dan memproduksi kecap yang bisa dijual untuk umum.
Dengan kegitaan tersebutm setidaknya berakibat baik bagi kondisi psikologis
para tahanan dan narapidananya. Sikap pegawai yang baik menunjang hubungan
emosional yang baik antara pegawai dengan tahanan dan narapidana.
I.
Pengertian
Wawancara
Wawancara adalah metode
pengumpulan data dengan jalan tanya jawab sepihak yang dikerjakan dengan
sistematik dan berlandaskan kepada tujuan penyelidikan (Hadi, 1993).
Wawancara adalah
perbincangan yang menjadi sarana untuk mendapatkan informasi tentang orang lain
dengan tujuan penjelasan atau pemahaman tentang orang tersebut dalam hal
tertentu.
II.
Alasan
Menggunakan Wawancara
Beberapa situasi ketika alat
ukur tidak dapat digunakan antara lain yaitu:
•
subyek buta
huruf.dan terlalu muda untuk merespon alat tes
•
topik yang
diukur bersifat pribadi, individual, rahasia.
•
Situasi-situasi
tersebut membutuhkan pendekatan yang lebih bersifat personal.
III.
Tujuan
dan Fungsi Wawancara
1.
Pengukuran Psikologis
Data
yang diperoleh dari wawancara akan diinterpretasi dalam rangka mendapat
pemahaman tentang subyek dalam rangka melakukan diagnosis permasalahan subyek
dan usaha mengatasi masalah tersebut.
2.
Pengumpulan
Data Penelitian
a. Pengumpulan Data Penelitian Kuantitatif
Informasi dikumpulkan untuk mendapatkan penjelasan mengenai suatu
fenomena. Data dikumpulkan dengan cara wawancara karena kuesioner atau alat
ukur yang lain tidak dapat diterapkan pada subyek-subyek tertentu, atau ada
kekhwatiran responden tidak mengisi atau kuesioner atau alat ukur yang lain
atau responden tidak mengembalikannya kepada peneliti.
b. Pengumpulan Data Kualitatif
Informasi yang diperoleh digunakan untuk mendapatkan
pemehaman tentang suatu fenomena yang diteliti. Wawancara menjadi bagian dari penelitian
survey ketika alat-alat ukur lain seperti kuesioner dianggap tidak mampu
menangkap secara lebih mendalam informasi dari responden. Informasi
bersifat kualitatif dan mendalam sehingga bersifat individual.
IV.
Kecakapan
dalam Wawancara
1.
Persiapan dalam Wawancara
1) Menjalin
hubungan baik (rapport) dengan orang yang diwawancarai;
2) Melatih
kemahiran dan ketangkasan mengajukan pertanyaan-pertanyaan dan kecakapan memancing
jawaban yang adequate;
3) Menentukan subyek;
4) Mengatur waktu dan tempat
wawancara;
5) Membuat guide interview
atau pedoman wawancara;
6) Try
out preliminer;
7) Checking terhadap
kemampuan dan ketelitian jawaban.
2.
Strategi Wawancara
1) Memantapkan Rapport;
2) Menunjukkan Minat;
3) Menangani Kecemasan;
4) Mendorong Komunikasi.
3.
Faktor yang menghambat dan mendukung komunikasi
dalam wawancara
v Penghambat komunikasi
1) Keperluan yang berkompetisi,
pewawancara merasa tergesa-gesa karena ada keperluan lain;
2) Etiket,
orang yang diwawancara yakin bahwa suatu respon akan tidak dibenarkan;
3) Trauma,
orang yang diwawancara mengalami kembali sakit yang dirasakan ketika mengungkap
persaan yang tidak menyenangkan berkaitan dengan pengalaman krisis;
4) Melupakan,
orang yang diwawancara tidak dapat mengingat beberapa informasi;
5) Kekacauan kronologis,
orang yang diwawancara mengalami kekacauan dengan urutan pengalamnnya;
6) Kekacauan kesimpulan,
orang yang diwawancara memberikan informasi yang tidak akurat dan membingungkan
karena dia membuat kesimpulan yang salah;
7) Perilaku tidak sadar, orang
yang diwawancara tidak sadar akan perilaku yang tidak disadarinya.
v Pendukung komunikasi
1) Memenuhi harapan,
orang yang diwawancara mencoba untuk konform dengan harapan pewawancara seperti
yang dikomunikasikan secara verbal dan non verbal;
2) Rekognisi,
pewawancara mencoba untuk memberi
rekognisi yang tulus (penerimaan, pujian, penghargaan) ketika ada
kesempatan yang tepat;
3) Kebutuhan untuk dibimbing,
kebutuhan untuk dibimbing akan memotivasinya untuk memberikan informasi;
4) Pemahaman empatik,
keinginan orang yang diwawncarai untuk dipahami dan didengarkan dengan simpatik
akan mendukung wawancara, terutama ketika sikap empatik pewawancara diarahkan
pada tujuan wawancara;
5) Katarsis,
kebutuhan orang yang diwawancara untuk katarsis (melepaskan diri dari
ketegangan dengan cara menceritakan sumber ketegangan dan mengekspresikan
perasaan) meningkatkan spontanitas wawancara ketika iklim penuh pemahaman yang
empatik sudah terbentuk.
4.
Ketrampilan
Wawancara
1) Mendengarkan;
2) Mengamati Suara dan Pembicaraan;
3) Mengamati Perilaku
Non Verbal;
Perilaku non
verbal
|
Kemungkinan makna
|
Kontak mata langsung
|
Kesiapan atau
kesediaan untuk berkomunikasi interpersonal, perhatian
|
Menatap orang
atau obyek terus menerus
|
Menantang,
konfrontatif, cemas, kekakuan
|
Bibir terlipat
|
Stress,
kemarahan, kekerasan, keras kepala
|
Menggeleng
|
Tidak setuju,
tidak terima, tidak percaya
|
Duduk memutar badan dari pewawancara
|
Kesedihan,
tidak berani, menolak diskusi
|
Gemetar, tangan nervous
|
Kecemasan,
kemarahan
|
Mengetuk-ketukkan kaki
|
Ketidaksabaran,
kecemasan
|
Berbisik
|
Kesulitan
menceritakan topik
|
V.
Aspek-Aspek Penting pada Relasi Ibu-Anak
Masalah penting
yang harus dihadapi wanita dalam melaksanakan fungsi reproduksi itu dimulai
dengan kehlamilan dan kelahiran bayi sampai pada pemeliharaan anak. Tugas paling
berat bagi ibu muda tersebut ialah menciptakan unitas atau kesatuan yang
harmonis di antara diri sendiri dengan anaknya. Dengan kata lain, ibu tersebut
harus mampu “memanunggalkan diri” atau mengidentifikasikan diri secara selaras
dengan bayi dan anaknya.
Jika ibu tersebut
mengabdikan diri sepenuhnya pada tugas-tugass pelanggengan jenis manusia saja,
dan segenap aspek kehidupan jiwanya dipenuhi tugas-tugas memelihara spesies
manusia secara ekslusif, maka pasti dia akan kehilangan individualitasnya.
Tugas-tugas keibuan
untuk mengabdi pada proses pelestarian spesies itu berlangsung sejajar dengan
usia serta perkembangan anaknya. Misalnya saja, semua kegiatan ibu pada periode
pertama dan bayinya akan terpusat pada pemeliharaan jasmani bayinya, khususnya
pada kegiatan menyusui. Pada saat tersebut, dorongan untuk mempertahankan
unitas dengan bayinya ternyata sangat kuat, dan usaha untuk melindungi bayinya
mencapai titik kulminasi. Sebab ketidakberdayaan anaknya justru mengundang satu
appel terhadap ibunya, dan memperkuat unitas ibu anak selama periode menyusui
ini.
Tugas selanjutnya
dari ibu ialah : mendidik anaknya. Sebab di samping pemeliharaan fisik, kini ia
harus melibatkan diri dalam menjamin kesejahteraan psikis anaknya, agar anak
mampu mengendalikan instink-instinknya, untuk bisa menjadi manusia beradab.
Sebab, jika si anak terlalu dibiarkan lepas bebas serta dikuasai oleh
dorongan-dorongan instinktifnya yang primitif, maka ia bisa menjadi liar, tidak
terkendali, dan tidak disiplin.
Sekarang dapat
dimengerti, bahwa segala macam kesulitan pada pribadi anak itu pada hakekatnya
bersumber pada kesulitan orangtuanya, khususnya kesulitan ibunya. Sehubungan
hal ini, wawasan jernih mengenai proses-proses psikologis dari ibu-ibu muda itu
menjadi bagian paling penting dalam pedagogik (ilmu mendidik) modern pada zaman
sekarang. Sebabnya ialah ibu-ibu itu mempunyai relasi dan pengaruh langsung
kepada anaknya.
Langganan:
Postingan (Atom)






